Senin, 25 Juni 2012

“gara-gara mendukung pemimpin tak sholeh” Menuju 100 tahun Indonesia di bawah “kepemimpinan KAMMI” Dan Kemenangan Dakwah di DKI Jakarta


Setiap manusia selalu dihadapkan dengan keputusan dan pilihan, kata “manusia” yang memiliki hak “hurrun, mukallaf, mukhoyyar”; bebas, dibebani dan memilih, sebagai bentuk rahmat Allah bagi Manusia. Yang terpenting adalah kosekwensi dari Keputusan yang diambil. Islam atau tidakkah kita itu tidak penting bagi Allah “Robb semesta Alam” yang jelas Islam ; Surga selain itu “to Hell”.

Baik dalam urusan kecil maupun besar. Islam sangat menuntun Umatnya untuk tepat dalam mengambil Keputusan, bahkan para Ulama membuat kaidah-kaidah Fiqh “Fiqh  Prioritas”. Tujuannya agar Umat Islam mampu menyesuaikan diri dengan zaman dan peradaban mereka dan mampu menjadikan keputusan sebagi kemenangan besar. semau ada dalam menjemen keputusan.


berkaitan dengan “Keputusan dalam memilih pemimpin” . do’a yang selalu kita ucapkan “Robbana Hablana min azwajina wazurriyatina Qurrota a’yun waj’alna lil muttaqina imama” harapannya ; agar yang menjadi pemimpin itu dari orang-orang yang bertaqwa. Bila kita dihadapkan dengan pilihan para calon pemimpin yang baik, maka kita pilih yang terbaik plus bertaqwa. Sebab bila mana yang terpilih adalah pemimpin Zholim, lalim apalagi tidak beriman, maka nanti akan banyak penyesalan-peyesalan di neraka. Dan itu tertulis dalam kitab suci Umat Islam ( Al-Qur’an ). 

Diceritakan Bahkan para Pemimpin fasiq, Zholim dan tholeh ( tidak bertaqwa ) akan saling adu mulut ketika hari kiamat ( Neraka ), dimana para Rakyat meminta Allah agar mengazab para pemimpin mereka yang Zholim. Dan para pemimpin dengan lugas menjawab “Rasakanlah azab ini, saya dulu Cuma ngajak. Kenapa kamu mau??”.

banyak sekali ayat serta hadist yang menunjukkan bahwa efek dari salah memilih pemimpin adalah orang akan terjerumus kedalam neraka, disebabkan pemimpin tersebut tidak menaati Hukum yang Allah ta'ala tetapkan, diantara hadist-hadist tersebtu:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ وَالصَّلَاةُ قُرْبَانٌ أَوْ قَالَ بُرْهَانٌ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ النَّاسُ غَادِيَانِ فَمُبْتَاعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا وَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُوبِقُهَا

Rasulullah saw bersabda kepada ka’ab bin ujrah: mudah-mudahan allah melindungimu dari para pemimpin yang bodoh (dungu). Ka’ab bin ujzah bertanya: apa yang dimaksud dengan pemimpin yang dungu wahai rasulullah saw? Beliau menjawab: mereka adalah para pemimpin yang hidup sepeninggalku. Mereka tidak pernah berpedoman pada petunjukku, mereka tidak mengikuti sunnahku. Barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka ataupun mendukung atas kezaliman mereka, maka orang itu tidak termasuk golonganku, karena aku bukanlah orang seperti itu. Mereka juga tidak akan mendapatkan air minum dari telagaku. Wahai ka’ab, sesungguhnya puasa adalah benteng, sedekah itu bisa menghapus kesalahan, sedangkan shalat adalah upaya mendekatkan diri kepada allah (qurban) –dalam riwayat lain burhan (dalil)- wahai ka’ab sesungguhnya tidak akan masuk surga seonggok daging yang berasal dari barang haram. Dan api neraka lebih berhak untuk melahapnya. Wahai ka’ab bin ujrah, manusia terpecah menjadi dua golongan: pertama, orang yang membeli dirinya (menguasai dirinya), maka dia itulah yang memerdekakan dirinya.  Golongan yang menjual dirinya, maka dia itulah yang membinasakan dirinya sendiri. (hr. Ahmad bin hambal)

bisa kita fahami bahwa Islam mengajak kita supaya tidak menjadi dungu juga akibat memilih pemimpin yang dungu. sebelum memutuskan untuk memilih siapakah akan menjadi pemimpin anda, maka pelajari terlebih dahulu bagaimana kesholehan orang tersebut. semoga Mayoritas Masyarakat Jakarta memilih orang-orang yang Sholeh tuk jadiin Pemimpin di Ibukota yang kita cintai ini.

Alhamdulillah, implementasi dari keputusan tepat adalah Kemengan dakwah di Mesir. terpilihnya Dr. Muhammad Mursi . Hal ini secara tidak langsung berdampak juga kepada Dakwah-dakwah yang ada di Dunia bil khusus adalah Indonesia. Bagaimana tidak, dahulu Mesirlah Negara pertama yang mengakui Negara ini sebelum negara lainnya. Ini juga sebagai tanda kemaha besaran Allah; Allah berfirman “sesudah kesulitan ada kemudahan”. Dan bukti Mukjizat Nabi akan Sabda beliau “"Allah mengutuskan pada ummat ini di setiap awal 100 tahun, orang yang akan memperbaharui urusan agama-Nya (mujaddid)". (Dari Abu Hurairah). Dimana para aktifis Ikhwanul Muslimin yang selama ini dizholimi, kini menuai manis nya. 

sungguh, Hadiah kemenangan yang didapat para ikhwah di Mesir tidaklah gratis yang tiba-tiba muncul. Ingat, berapa banyak yang menjadi “syuhada’’?berapa banyak mereka dipenjarakan?mereka harus tidur berminggu-minggu di “TANAH KEMERDEKAAN”. 

kemenangan dakwah di DKI Jakarta; impian kita bersama yang harus sama-sama kita wujudkan. Walaupun ini terasa sulit, tapi yakinlah kita ada Allah subhanahu wata’ala yang selalu menolong hamba-hambanya beriman. “berapa banyak golongan yang sedikit menang terhadap golongan yang banyak dengan IzinNYa” itu nyata dalam Al-Qur’an. Bila anda teliti dalam membaca ayat ini secara utuh maka jawabannya adalah sabar. “barang siapa yang sabar maka ia akan menang”. Dan juga ini merupakan hasil dari “keputusan Rakyat Mesir” yang sangat baik. Kita do’akan semoga mesir akan lebih baik pada tahun yang akan datang.
Dan Indonesia memang belum genap 100 tahun. Namun, umat ini seolah tidak sabar menantikan seorang Pemimpin yang mampu mentafsirkan makna “syari’ah” dalam kehidupan bangsa ini. Memang butuh waktu dalam menciptakan Pemimpin yang “Muslim Negarawan”. Tidak hanya baik Keislamannya, tetapi baik juga perannya sebagai “seorang Negarawan”. Kita tunggu saja, InsyaAllah KAMMI bisa menjadi jawaban “seratus tahun Indonesia dibawah kepemimpinan Muslim Negaarawan” untuk bangsa ini.wallahua’lam.


 Derysmono
( Mahasiswa LIPIA fak. Syari’ah )
Derys_mono@yahoo.com
Sms ( 085284679674 )

Tidak ada komentar: